Gue Seorang Prajurit Dari Mimpi

Apa yang kepikiran di kepala lo waktu belajar di kelas? Ato waktu pusing-pusing ngerjain tugas? 

Apa lo juga memikirkan masa depan lo? Bahwa setiap kusulitan lo yang sedang lo hadapi sebenarnya adalah lampu yang akan menerangi masa depan lo. 

Kalo iya, maka berbahagialah.

Sebab banyak yang belum menentukan apa tujuan hidupnya. Meskipun usianya sudah lebih dari 20 tahun.

Salah contohnya gue.

Meskipun gue termasuk anak yang pandai, pandai nyontek maksudnya, gue ga tau apa sebenarnya keinginan gue.

Kadang gue pengen jadi seorang guru. Sebab waktu kelas 2 SD gue terinspirasi guru gue: cantik, lembut, pintar, dan penyabar. 

Lain waktu gue pengen jadi penulis. Bukan menulis untuk uang.

Tapi menulis untuk menyebarkan ide-ide gue. Cita-cita menulis ini karena pengaruh dari kebiasaan gue. 

Bayangin aja, mulai SMP gue sudah ngelahap buku-buku berat, misalnya:

  • Di Bawah Bendera Revolusi
  • Filsafat Eksistensialisme
  • 10 Filsuf Atheisme
  • Ilmu Kalam
  • Ihya Ulumuddin

Untuk buku-buku sastra fiksi, gue sama sekali kehilangan minat sama teenlit. Gue lebih suka buku sastra yang berbobot:

  • Robohnya Surau Kami
  • Siti Nurbaya
  • Layar Terkembang
  • Di Bawah Lindungan Ka’bah
  • The Lord of The Ring
  • Winnetou

Gue sama sekali alergi sama cerita-cerita abege, apalagi ababil. Yang cuma ngomongin gimana cara mendapatkan cowok.  Atau cerita galau gara-gara putus cinta. 

Tapi setelah dipikir-pikir, gue rada sangsi dengan profesi sebagai penulis. 

Mendingan jadi seorang motivator. Aduh, yang ini juga makin ga masuk akal. 

Begitu seterusnya, keinginan gue datang dan pergi tanpa permisi. Dan secara ga sopan meninggalkan gue terpuruk di sudut kehidupan.

Gue laksana sampah di pelataran sejarah. Hihihi… sedih banget. 

Akhirnya setelah melewati usia 20 tahun baru gue menemukan keinginan gue. 

Gue pengen jadi orang kaya. Wekawekaweka… 

Sebenarnya bukan pengen jadi orang kaya. Gue pengen mengumpulkan energi gue untuk mencapai sesuatu. 

Gue baru nyadar kalo selama ini pikiran gue bercabang ke sana ke mari. Akibatnya energi gue terbuang percuma. 

 

Project 5 Hektar Tanah

Gue sadar sesadar-sadarnya orang tua gue bukan orang berada…kata halus untuk “miskin.” 

Artinya gue juga miskin. 

Tapi di sinilah kesempatannya. Gue pengen punya sesuatu. 

Gue ngebayangin setiap perjuangan yang akan gue jalani untuk mencapainya. Project pertama gue adalah beli tanah seluas 5 hektar. Itu aja.

Gue pengen investasi di properti. 

Maka mulailah gue bergerilya mengumpulkan segala kemampuan. Mulai dari ikhitar, berpikir positif, berperasan positif, dan doa-doa yang selalu kuucapkan setiap kali shalat. 

Itulah senjata gue.

 

Kebaikan Dibalas Kebaikan

Inilah hal pertama yang gue lakuin. Gue meyakini bahwa setiap perbuatan pasti mendapatkan balasan. 

Baik perbuatan di pikiran, perasaan, maupun perbuatan di dunia nyata. 

Pikiran gue selalu positif. Supaya dapat balasan yang positif.

Perasaan gue juga harus positif – bahagia, syukur, senang, ridha. Supaya dapat balasan yang positif juga.

Begitu juga dengan perbuatan gue. Sebisa mungkin gue berbuat baik, sekecil apapun. Meskipun sekedar mendoakan kebaikan orang yang menyakiti gue.

 

Doa, Doa, dan Doa

Gue ga main-main dengan doa. Doa adalah kekuatan. 

Entah bagaimana caranya, Tuhan punya banyak cara untuk mengubah nasib. Gue yakin seyakin-yakinnya, sangat gampang bagi Tuhan untuk mengabulkan permintaan kita. 

Termasuk mengubah nasib menjadi lebih baik. 

Tuhan adalah Pemilik alam raya ini. Sudah sepantasnya kita meminta kepada-Nya. 

Ikhtiar kita ditambah doa.

Malam kita ditambah tahajud.

Pagi kita ditambah duha.

Harta kita ditambah sedekah.

Ya, tentunya  semua itu masih dalam tahap belajar. 

**

Hanya dalam 2 tahun, gue sudah bisa merasakan dari kekuatan mimpi.  Dan kini gue ingin menjadi prajurit dari impian yang lainnya. 

“Meninggalkan sesuatu yang berguna meskipun setelah kematian menjemput gue.” 

 

Note: Jika ingin komentar, cukup tuliskan komentar dan nama. Komentar lo dah bisa nongol.

2 Replies to “Gue Seorang Prajurit Dari Mimpi”

  1. Waah bacaannya berat-berat juga ya :v kereeen. Btw, gue juga setuju sama pendapat lo untuk baca buku yang lebih sastra dan berbobot dibandingkan romance abg biasa (y)

    1. Sekarang mah dah ringan. Makasih atas kunjungan kenegaraannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.