Kidung Cinta Kahlil Gibran

Jika jubah malam turun…

kan kubisikan derai-derai cinta ini…

Pada bintang-bintang di langit kelam.

Kan kuperdengarkan

alunan kidung cinta

yang lembut

mesra

penuh cinta

hanya untuk seorang kekasih yang menanti.

KIDUNG CINTA DAN AIR MATA

Seorang pertapa mengatakan

cinta adalah anugerah penuh penyiksaan.

 

Seorang puteri di istananya berujar

cinta adalah halimun putih yang menghalangi masa depan.

Seorang penggembala di padang rumput merenungkan

cinta hanyalah domba-domba gemuk yang menyenangkan hati pemiliknya.

Tetapi aku menuliskan

cinta adalah anak sungai di kaki gunung,

yang mengalirkan kesejukan.

ia laksana kidung

yang dinyanyikan para perawan suci

yang membuai para pemuda

hingga jatuh ke dunia impian.

cinta itu sesungguhnya indah

bila diletakkan pada yang indah

dan tempat yang indah itu adalah hatimu.

..

ALUNAN NAN INDAH 

Baiklah. Aku akan membawamu ke desaku.

Yang puing-puingnya adalah reruntuhan kota Balbek. Dan padangnya adalah keharuman bebatuan masa silam.

Aku akan membawamu berlari kecil…merasakan betapa ringannya udara dan kehidupan pedesaan.

Dan bila para penggembala memandangimu,

aku tahu bahwa mereka terpesona oleh senyumanmu yang amat anggun.

Terkesima oleh gemulai tubuhmu,

yang hanya dimiliki oleh para perawan yang dianugerahi keindahan.

 

Bila…

engkau lelah.

Marilah kita duduk di bawah sebatang pohon nan rindang.

Di sana kita akan bercerita.

Tentang masa depan. Cinta. Kehidupan. Serta puisi-puisi yang menyentuh hati.

NYANYIAN SEDIH DALAM KIDUNG CINTA

Di antara bentangan semesta raya, di antara denting gemintang nan sunyi…

…aku terpekur dalam keheningan yang amat hampa.

Sepertinya aku baru saja jatuh dalam jurang cinta. Dimana duri-duri tajam melukai, tidak hanya tubuhku. Tetapi juga hatiku.

Kini air mata kepedihan menetesi lantai jiwaku.

Ia bukan lagi air mata, tetapi garam yang semakin melukai dan menambah kepedihan ini.

Oh Cinta…

Kemanakah kurebahkan tubuhku yang luka? Sebab permadani pun terasa begitu menyakitkan.

Ke mana pula kusembuhkan segaris luka yang mengalirkan darah dari relung hatiku?

Oh Cinta…

Apakah engkau mendatangiku sekedar singgah? Ataukah hanya meletakan sebutir rindu lalu meninggalkanku?

Ataukah,

Engkau hanya ingin melihat air mata ini jatuh dari seorang yang lemah tak berdaya.

Maka aku menanti sebuah jawaban. Meski harus melewati malam-malam diliputi sepi. Siang yang hening. Ataupun senja tanpa cahaya keemasan nan jelita.

Lalu

aku akan menyanyikan kidung cinta hingga masa usiaku usai…

…dalam penantian tanpa kutahu ujungnya.

4 Replies to “Kidung Cinta Kahlil Gibran”

  1. wah..macam best je sajak ini..ayat yang penuh puitis dan bermakna

  2. aslkm kk 🙂

    salam kenal yaa hehe,… semangat blogger kk,.. tulisannya keren kk,. apalagi mengenai puisi,bisa bahagia sendiri tuuh yg nulis,soalnya mengalir dengan sendirinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.